HIDUP tak MENGAJARI mu Bagaimana TERTAWA, Tetapi HIDUP MENGAJARI mu Bagaimana Meraih BAHAGIA.
Tampilkan postingan dengan label My Story Goes.... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Story Goes.... Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Desember 2011

Yaa Allah, Ijinkan Aku Membahagiakan Ibu.


Ibu ijinkan anakmu ini menuliskan untaian kata untukmu.

Tentang CINTA dan KASIHmu, Ibu.
Dalam bodohku, sering aku bertanya, harus mulai dari mana aku membalas semua cinta dan kasihmu. Karena cinta dan kasihmu sudahlah tak terhitung banyaknya. Tapi mengapa aku sering merasa lebih pintar darimu Ibu. Maka maafkan anakmu ini!

Tentang KESABARANmu, Ibu.
Dalam sempitnya pikirku, sering aku memandangimu, dengan apa aku mengeringkan bekas ompolku yang pasti sudah kering di telapak tanganmu, tetapi nakalnya aku ketika kecil tentu akan selalu memenuhi gembira di hatimu. Lalu aku berpikir, mengapa aku selalu marah padamu jika hal-hal kecil saja tidak bisa ibu berikan padaku. Maka maafkan anakmu ini!

Tentang IKHLASmu, Ibu.
Tak pernah aku ragukan … . Terimakasih Ibu dan maafkan anakmu ini yang terlalu membebanimu!

Rabu, 21 Desember 2011

Ketika Bapak Hanya Berjarak Satu Hembusan Nafas Dariku

Tengah malam di lorong rumah sakit.

Waktu menuntunku ke pukul 00.55 lepas tengah malam. Ragaku ngilu. Mataku pedih, rindu menjemput gelap. Kurebahkan tubuhku di atas kursi bergalar kayu panjang depan ruang radiologi. Ah, cuma kursi ini yang tersisa keluhku.


***

Detik berlalu tak juga membuat mataku segera terpejam. Bayangan wajah bapak yang tergolek tak berdaya di ruang ICU terus menggerus pikirku. Masih terngiang racauan bapak sejak pukul empat sore tadi. Selepas selang pembuangan kotoran dari lambung dipasang melalui lubang hidung, kesadaran bapak hilang. Mengapa dokter penyakit dalam yang seharusnya memeriksa bapak harus seminar di Jogjakarta, kesalku.

Tapi, tindakan medis harus terus berjalan untuk menyembuhkan bapak. Aku teringat bagaimana muaknya bapak dipasang selang pembuangan melalui hidungnya. Bapak berontak. Tapi aku harus memegang kepala bapak agar cepat selesai proses pemasangannya. Karena akan lebih sakit jikaulau gagal dan harus dipasang untuk kedua kalinya.

Saking, tidak kuat menahan panas di dalam tubuh, jarum infus yang tertancap di pergelangan tangan bapak terburai. Darah deras keluar.

“Apakah tidak bisa dikasih obat penenang perawat? Kasihan bapak kalau terus begini.” Rengekku pada perawat penjaga.

“Saya tidak berani Bapak, karena itu perintah dari dokter. Dan jika Bapak memaksa agar kami melepaskan selang pembuang kotoran maka jenengan harus menandatangani surat ini. Dan pihak rumah sakit tidak akan bertanggung jawab jika terjadi apa-apa atas permintaan Bapak. Bagaimana?” Sodoran kertas perjanjian di depanku hanya kupandang layu. Hanya ucapan terima kasih kepada perawat yang bisa terlontar dari mulutku. Sesak dadaku.

Jumat, 12 November 2010

Doubtful Journey (God, sorry for hesitating you...)

“Allahu akbar, Allahu akbar. Asyhadu alla ilaaha illallah….” 

Adzan subuh berkumandang lingkupi pagi buta bulan april tahun 2000. Tepat sebulan aku mentasbihkan diriku sebagai mahasiswa dengan nilai cum laude di sebuah perguruan tinggi swasta di kota seni dan budaya. Bahkan riuh tepuk tangan yang membahana di balairung universitas kala itu masih sayup terdengar hingga kini. 

Kututup masa kuliahku dengan prestasi yang membanggakan. Menjadi mahasiswa lulusan terbaik adalah salah satu dari sederetan keajaiban yang diberikan Tuhan padaku. Namun tak selang dua hari setelah wisuda aku harus pulang. Aku sadar kepulanganku bukanlah untuk melanjutkan sebuah perayaan. Namun menerima sebuah kenyataan bahwa aku harus menanggalkan semua kamuflase kebahagiaan dan haru biru masa kuliahku. Aku harus bersiap masuk gerbong kehancuran yang tengah membawa keluargaku pada sebuah petaka. Bahkan untuk menjadi roda-rodanya aku pun akan mempertaruhkan diriku. Kata orang hidup adalah sebuah pilihan. Tapi bagiku, kadang hidup tak menyisakan sebuah pilihan. Maju atau aku mati.

Kamis, 11 November 2010

Hidup adalah metamorfosa

Dulu aku bukan siapa-siapa. Hidup tak ubahnya seperti daun kering terbawa arus air kali di belakang rumahku. Mengalir dia tak berujung. Aku bisa terombak dahsyat. Tapi aku juga bisa diam di tepian kedung (bagian sungai yang membentuk telaga besar di kelokan). Bahkan kadang aku tersesat dalam goa-goa kecil tebing kali cemara.
Dulu aku tak berpikir mau jadi apa. Aku lakukan yang aku suka. Sekolah miskin prestasi akademi kecuali bidang kesenian. Bahkan untuk masuk kelas 2 Fisika saja, aku harus melalui tes remidiasi mata pelajaran Fisika. Aneh? Maksa banget. Tapi itulah aku. Hampir tak ada rintangan yang bisa kulalui. Bukan karena aku congkak kepada dunia. Tapi Tuhan Maha Sayang, meski tak pintar tapi aku cerdas. 

Karena 1 tambah 1 yang menghasilkan angka 2 dalam ilmu matematika, tak berlaku bagiku. Karena bagiku 1 tambah 1 adalah tak berhingga. 
Hitungan matematika bagiku hanya membodohi aku. Karena aku percaya, angka 2 sesungguhnya hanya 1 angka awalan bagi hasil dari penambahan angka 1 dengan angka 1. Dibelakang angka 2 bisa puluhan, ratusan, jutaan, milyaran angka. Sesungguhnya semua isi alam semesta ini milik Tuhan. Dan Tuhan adalah Maha Gaib. Dia mempunyai rahasia di belakang angka 2. 

Saat semua tidak harus bersama...

Menapaki satu jalan… dua insan yang saling setia. Berjanji sehidup semati. Melayari hampir satu tahun kehidupan bercinta di atas bahtera sang Nabi. Hem… kadang penuh canda menggoda. Tapi kadang ada sungut di kedipan mata. Alangkah indahnya…

Sang bahtera pun sesekali tertawa menyaksikan tingkah polah sang pangeran dan permaisuri. Dan tak ada enggan bagi sang Bayu untuk menggoda. Tiba-tiba datang dari arah buritan kapal dia. Agak nakal menerjang sang bayu, hingga membuat mereka saling terjungkal berpeluk. Terkadang sang bayu berpusar di geladak, membuat sang pangeran berpeluh untuk menggenggam kuat sang bara cinta. Semua dilakukan bersama dan hanya untuk cinta. Oh alangkah indahnya… 

Sebuah Catatan Kecil di Kaliurang

Secangkir teh beraroma melati dan beberapa keping wafer coklat menemaniku sore itu. My happiness is undescribed. Bahagiaku tak terlukiskan. Wangi kursi manten masih mengekor hingga keberadaanku di sana. Hem... 
Sebuah coretan kecil yang baru saja aku buat dan pensil kuhimpitkan di bawah teko poci. Segera jemari kiriku mencermati status facebook bertuliskan, “Menikmati jasmine tea bersama istri... Di teras gazebo @somewhere menunggu azan magrib tiba... Melihat atas bukit bertemaram sang surya yg beranjak ke peraduan...” Beberapa komentar masuk dalam hitungan detik. Ada beberapa komentar yang membuat sel neuralku terbakar dan tertawa lepas. Mereka ternyata tergoda juga mendengar kata-kata honeymoon. Sekedar bercanda, bahkan ada yang menyemengatiku untuk lebih keras "bertempur". Emm... “Bukan menikmati istri bersama jasmin, to?” Tulis komentar sang kartunis kenamaan. Aku terkekeh membaca komentarnya... . Saudara dekat yang lama tak berjumpa pun memaksakan diri menulis comment. Nuhun pisan kang.

Bawean, si Rusa Kecil

Seekor rusa jantan tengah bersemadi di batuan hitam bundar di atas bukit hutan Cintamani. Batuan itu terapit dua pohon besar. Seperti raksasa hitam yang mengapit buah mentimun. Beberapa sulur ranting pohon mengenggam erat bawah batuan. Mencengkeram kuat agar tak terguling. Beberapa undakan anakan tangga membalut dari bawah hingga melangit ke atas. Lumut-lumut tua berserak di sana-sini. Mungkin sudah ratusan tahun mereka bertaaruf di sana. Terlihat sebuah padepokan tua berdiri megah tepat di sebelah kiri batu semadi. Kayu pinus yang membungkus dinding padepokan itu begitu kuat meradang. Seperti penjara tak bertuan. Yah, rusa yang malang. Ia terus dihujan sepi sejak hari pertama kedatangannya di padepokan itu sekitar 2 bulan yang lalu. Ia mendapat titah sang raja. Ia harus menjaga padepokan itu selama waktu yang tak terhingga. Hingga ada satu syarat yang harus ia penuhi agar bisa keluar dari padepokan. Syarat itu adalah si rusa harus membuat seribu kitab peraturan hutan Cintamani. Hem...



Di pojok pertapaan ia membelah hari-hari sepi. Beberapa tumpukan daun lontar yang terikat dalam beberapa kitab telah ia rampungkan. Bahkan ia hafal isinya. 
“Hai Rusa kini engkau semakin berilmu.” Sendaunya dalam hati. “Lihat! Kitabmu sudah hampir menyesaki almari padepokan.” Rusa hanya menggumam. 
“Bukan ini yang aku mau!!!” Bentaknya dalam sepi. 
Ia tak mau tergeletak mati di padepokan. Karena ia tahu hidup harus ada tawa. Karena canda akan membinasakan sepi. Hidup dalam sendiri adalah hukuman mati dari sang penguasa mayapada. Inikah takdir yang harus ia terima setelah terusir dari tanah kelahirannya. Dan terpisah dari kawanannya. “Crush... .” Si rusa melemparkan tanduknya pada kulit pohon Gaharu. Dan mendengus keras.

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP