HIDUP tak MENGAJARI mu Bagaimana TERTAWA, Tetapi HIDUP MENGAJARI mu Bagaimana Meraih BAHAGIA.
Tampilkan postingan dengan label Cerita Penuh Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Penuh Hikmah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 November 2011

L.A.Y.L.A

Tubuhku yang limbung menantang sebukit baju kotor di pojok kamar. Tenagaku terkuras habis untuk ekspedisi wilayah timur jawa kali ini. 
“Damn it!”. 
Terngiang ocehan Haji Musder, juragan garam yang menjajal peruntungan sebagai agen buku di Pamekasan. “Sesuai janji, ane akan membayar tiga setengah juta. Tapi, sayang sekali saudaraku,” dia tertawa menyeringai, “Berhubung tidak ada matahari pada bulan-bulan terakhir ini. Jadi garam ane pun malas untuk dipanen. Dan pada ujungnya, mohon maaf, ane tidak bisa membayar tagihan. Tapi ente tenang saja! Pada waktunya akan ane bayar. Tenaang, tenang! Janji ane tidak akan meleset lagi. Dan, mumpung sekarang matahari lagi tertawa cerah,” telunjuk Haji Musder mendongak ke angkasa sambil terkekeh, “Ane mau tutup toko dulu. Mattor sakalangkong. Wassalamu’alaikum.”

Jumat, 12 November 2010

Kenapa Kalian Tinggalkan Ibu, Nak? (Tulisan Kecil untuk Aslam, Aiman, dan Arham)

Sepeda tua pak Shabri perlahan merayap keluar dari kampung Tirtasari. Lelaki berusia 35 tahun itu saban sore selalu berkecipak di jalanan penuh kerikil menuju kerumahnya. Dia adalah seorang tukang pelihara itik pocokan di rumah Pak Haji Ahmad. Yah, Tirtasari adalah sebuah kampung yang terkenal dengan penghasil itik petelur di Kecamatan Sorodenen.



Beribu kayuh melaju. Kampung Tirtasari hanya terlihat laksana titik hijau kehitaman, di daerah persawahan yang luas. Dengan nafas terengah, sesekali pak Shabri membetulkan letak bambu panjang mirip pancing yang disampirkan di pundaknya. 
Setengah jam lebih melaju, tampak di depan sebuah jembatan panjang yang melintang di atas kali Mambu. Pertanda ia akan segera sampai di rumah kecilnya. Rumah mungil yang terletak di pinggir jalan besar. Sebuah istana kecil berukuran 5 × 7 meter kebanggaannya, yang ia huni bersama istri dan tiga jagoan kecilnya. Si Aslam yang baru tiga bulan dilahirkan oleh istrinya tercinta, si Aiman yang duduk di kelas 1, dan si sulung Arham yang duduk di kelas 5. Aiman dan Arham duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah Negeri Desa Babadan, tidak jauh dari rumah mereka.


  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP