Tubuhku yang limbung menantang sebukit baju kotor di pojok kamar. Tenagaku terkuras habis untuk ekspedisi wilayah timur jawa kali ini.
“Damn it!”.
Terngiang ocehan Haji Musder, juragan garam yang menjajal peruntungan sebagai agen buku di Pamekasan. “Sesuai janji, ane akan membayar tiga setengah juta. Tapi, sayang sekali saudaraku,” dia tertawa menyeringai, “Berhubung tidak ada matahari pada bulan-bulan terakhir ini. Jadi garam ane pun malas untuk dipanen. Dan pada ujungnya, mohon maaf, ane tidak bisa membayar tagihan. Tapi ente tenang saja! Pada waktunya akan ane bayar. Tenaang, tenang! Janji ane tidak akan meleset lagi. Dan, mumpung sekarang matahari lagi tertawa cerah,” telunjuk Haji Musder mendongak ke angkasa sambil terkekeh, “Ane mau tutup toko dulu. Mattor sakalangkong. Wassalamu’alaikum.”
