This morning 08.30 am.
Bau obat menyeruak dari sekujur ruangan serba putih berukuran 6 × 3 meter. You rise me up-nya Josh Groban menyemut di udara ruangan. Mendengar alunannya, sejenak aku lupa dengan bau udara ruangan yang bersenyawa kental dengan bebauan obat. Sangat menyengat.
My father in law tengah berbaring menunggu kesiapan dokter Dasa. Dia, yang akan menangani operasi bapak mertuaku. Sementara ibu sibuk mengingatkan agar bapak tidak lepas dari dzikir. Mataku mengeliling ruangan. Ah, baru kali ini aku masuk ke dalam ruang operasi. Rasanya seperti memasuki ruang ambang kematian. Aku kadang melirik sebidang kaca berukuran 20 × 50 cm yang menempel di dinding pintu sebagai pembatas antara ruang tunggu operasi dan para pengantar. Penantian cemas kakak ipar, istri, dan adik ipar jelas terlihat beberapa kali menyembul tertahan bidang kaca.
Kuamati wajah bapak. Seorang lelaki yang sudah banyak malang melintang dalam mendidik putra-putrinya tergolek lemah dengan keringat dingin merata di kulitnya. Selang berisi cairan hijau tua tertancap di lobang hidungnya. Sebuah selang yang membuang cairan kotoran dari perut. Ada juga selang kecil berwarna biru yang tertaut pada tabung oksigen yang panjang di atas ranjang.