Huh, akhirnya bisa kembali menghempaskan jari-jariku di atas keyboard lagi. Dua minggu kemaren disibukkan dengan training layout Qur’an. Subhanalloh, ilmu yang luar biasa mulia dan ke’o yang aku dapat.
Tadi pagi, sembari merapikan pakaian kerja mataku terpincing dengan sebuah tayangan tausiyah pagi di sebuah stasiun televisi swasta. Ada mamah Dedeh lagi diskusi interaktif ma ibu-ibu dan bapak-bapak yang ada di studio. –Mamah Dedeh termasuk dai’ah kesukaanku, karena dia langsung thes – thes – thes dalam memberikan jawaban.
Ada seorang bapak yang bertanya, “Mah, saya punya anak ,ya. Ya, alhamdulillah tidak nakal lah, cuman kenapa saya kadang ngiri dengan anak tetangga, ya? Melihat keberhasilan mereka. Dalam pikiran saya, kenapa anak saya tidak sesukses mereka?” Kemudian dia melanjutkan pertanyaan lagi. “Saya termasuk kufur atau syukur nikmat?”
Dear blogger,
Sunatulloh memang, dulu kita dilahirkan dan mungkin sekarang kita sudah berkeluarga dan mempunyai anak. Peran kita sebagai anak dan orang tua memang tidak bisa ingkari.
Tinggal, ayuk, kita menilik kepada diri kita sendiri, termasuk tipe anak
bagaimanakah kita? Dan mau mempunyai anak macam kita.


